Home » , » Gagal Masuk Peringkat Google, Inilah 11 Kesalahan Fatal Menulis Artikel di Blog yang Perlu Anda Perbaiki

Gagal Masuk Peringkat Google, Inilah 11 Kesalahan Fatal Menulis Artikel di Blog yang Perlu Anda Perbaiki



“Mengapa artikel yang saya tulis di blog, tak satupun muncul di pencarian google?”

Ini adalah pertanyaan yang paling banyak muncul di blog ini ketika saya menulis “Cara Menulis dan Mempublikasikan Artikel di Blog.”

Ada banyak factor!

Tapi, tak perlu khawatir. Tulisan ini akan membantu Anda untuk mengetahui factor yang paling penting, penyebab artikel blog gagal berkompetisi mencapai peringkat teratas pencarian google.

11 Kesalahan Fatal dalam Menulis Artikel Blog


1. Pembahasan terlalu melebar, tidak fokus


Saya sering menemukan artikel yang ditulis untuk blog, membahas banyak hal sekaligus.

Menurut saya, ini sebuah kesalahan.

Bahkan, jika pun “banyak hal” itu dibahas secara mendalam. Apalagi jika tidak.

Judulnya spesifik. Tapi kontennya dari A sampai Z. Melebar ke mana-mana. Mirip sebuah buku, membahas mulai dari sejarah, pengertian, definisi, kegunaan, tujuan, manfaat, dan seterusnya.

Padahal, menulis untuk website sangat berbeda dengan menulis untuk buku.

Orang membaca buku ketika ia memang dalam keadaan siap untuk membaca bab demi bab isi buku.

Sedang pembaca website adalah orang sibuk yang tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama.

Ia ingin secepatnya menemukan solusi atas permasalahannya. Segera menemukan apa yang ia cari.

Tidak ada waktu untuk membaca artikel yang tidak focus.

Ketika orang mencari artikel untuk mengobati sakit ambeien yang ia derita, ia benar-benar sedang mencari tips cara mengobati sakit ambeien-nya.

Yang praktis. Kalau mungkin bisa langsung dipraktekkan. Terserah secara medis atau tradisional.

Jangan Anda tambah deritanya dengan ulasan-ulasan yang tidak penting bagi dia.

Tak perlu membahas gejala-gejala orang sakit ambeien, karena dia pasti sudah tau itu. Bahkan ia sedang mengalaminya sekarang.

Apalagi, jangan sekali-kali bahas istilah-istilah medis untuk penyakit ambeien. Atau sejarah perkembangan ilmu kedokteran untuk penanganan penyakit wasir.

Itu mungkin penting bagi mahasiswa di Fak. Kedokteran. Tapi bukan untuk orang yang sedang browsing di internet dengan kata kunci “cara mengobati penyakit ambeien.”

Kalau Anda paksakan, dalam sekejap mouse di tangannya akan beralih ke artikel lain. Toh, ada ribuan artikel lain yang antri menawarkan apa yang benar-benar sedang ia butuhkan.

Ingat, membaca artikel Anda yang tidak focus akan membuat mereka kecewa.

Kecewa, bukan saja karena tidak menemukan apa yang mendesak dicari, tapi juga karena sudah membuang waktu sia-sia untuk membaca sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia baca.

2. Menulis untuk Mesin Pencari


Di dunia web, jumlah visitor atau pengunjung adalah indicator utama keberhasilan sebuah blog atau situs. Dan sumber traffic terbesar ke sebuah blog adalah melalui mesin pencari.

Hanya situs dengan konten yang popular di mesin pencari yang akan memperoleh traffic tinggi.

Karena itulah, beberapa tahun lalu, banyak praktisi web lebih suka mencari trik-trik untuk “mengakali” mesin pencari, dari pada membuat artikel yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca.

Macam-macam rumus dan trik bermunculan. Fokusnya adalah bagaimana mempopulerkan sebuah konten di mata mesin pencari (search engine optimation).

Permainan kata kunci mendapat perhatian utama.

Tanpa disadari, kompetisi ini telah mendorong orang berlomba-lomba menulis untuk mesin.

Keberhasilan konten tidak lagi dilihat dari bobotnya dalam mencerdaskan dan memecahkan berbagai persoalan manusia, tapi seberapa mampu ia menundukkan mesin pencari.

Seorang teman menginventarisir beberapa indikator jadul bagi artikel yang dianggap SEO friendly:

1. Memiliki keyword density sekian persen
2. Panjang minimal 300/500 kata
3. Bold, underline, italic di setiap keyword
4. Keyword di judul, paragraf pertama, paragraf terakhir
5. Keyword di meta description
6. Menggunakan subheader (h2-h6) yang berisi keyword


Itu semua adalah parameter jadul yang memang digunakan oleh mesin pencari seperti google untuk menentukan peringkat sebuah artikel.

Tapi itu dulu! Sekarang zaman sudah berubah.

Pakar-pakar di balik mesin pencari sudah menyadari logika pemeringkatan jadul gagal menyeleksi tulisan-tulisan yang relevan dan berbobot.

Sekarang mesin pencari sudah menggunakan perilaku manusia dalam menentukan peringkat artikel.

Hanya artikel yang relevan dan berbobot yang layak menempati peringkat teratas.

Yakni tulisan-tulisan yang banyak dibutuhkan oleh manusia. Yang mampu menarik perhatian banyak orang. Yang bisa menjawab (memberikan solusi) atas persoalan mereka. Dan yang memuaskan bagi orang yang membacanya.

Parameternya adalah :
  • Seberapa banyak orang tertarik mencari, membuka, dan membaca artikel Anda?
  • Seberapa lama rata-rata orang menghabiskan waktu untuk membaca artikel Anda?
  • Seberapa banyak orang meneruskan, merekomendasikan, atau membagikan artikel Anda kepada orang lain? Dan,
  • Seberapa puas orang dengan isi artikel Anda?

Yang terakhir ini juga dapat dianalisa dari prilaku pembaca:

  1. Apakah mereka masih melanjutkan pencarian artikel lain (dengan kata kunci serupa)? ======>>> mengindikasikan mereka tidak puas, atau persoalannya belum terjawab. Atau
  2. Mereka mencukupkan/berhenti/menyudahi pencarian ======>>> mengindikasikan bahwa mereka puas dikarenakan artikel Anda sudah cukup untuk menjawab persoalan mereka.

Intinya, bagaimana orang berinteraksi dan merespon sebuah tulisan, hal-hal seperti itulah yang akan dianalisa oleh mesin pencari untuk kemudian menentukan peringkat sebuah artikel.

Tapi… sampai di sini, satu pertanyaan lagi mungkin masih mengganjal.

Bagaimana orang menemukan, membaca, dan merespon sebuah artikel kalau artikel itu sendiri masih baru dan belum masuk di peringkat google?

Di sinilah perlunya promosi. Mulai dari share pertama di google plus, media social, hingga forum-forum, dan sebagainya.

Pertempuran dimulai dari sini.

Respon pembaca lewat media-media promosi itu, akan menjadi “modal awal” atau titik tolak pertama bagi mesin pencari untuk menentukan peringkat sebuah artikel baru.

Contoh, ketika pertama kali posting, mesin pencari google misalnya, mengindeks artikel Anda di posisi terakhir dari 5.000 daftar pencarian.

Setelah share di google+ dan media sosial, dalam dua hari tercatat artikel Anda sudah dibaca sebanyak100 kali, dibagikan 10 kali, dan rata-rata lama membaca 5 menit/visitor.

Angka-angka inilah yang secara terus “dipantau” oleh mesin pencari. Dan digunakan untuk mengupdate peringkat masing-masing artikel.

Jika 4.000 dari 5.000 artikel di kata kunci yang sama, misalnya, ternyata dibaca masing-masing kurang dari 100 kali, dibagikan kurang dari 10 kali, dan durasi kurang dari 5 menit/visitor, maka artikel Anda (dengan contoh di atas) akan langsung melejit ke urutan 999 dari 5.000 artikel.

Demikian seterusnya.

Maka tidak heran ada artikel yang langsung masuk halaman 1 (peringkat 10 teratas) hanya dalam waktu 2 hari diposting (bahkan kurang dari itu). Ada yang tidak muncul-muncul meski sudah lama diposting. Dan ada juga yang melorot dan menghilang setelah sempat bertengger di posisi 10 teratas.

Kembali ke laptop.

Membuat artikel menggunakan tehnik SEO jadul sudah tidak relevan lagi. Masih menggunakan standar jaman dulu dalam menulis artikel, hanya akan membuat artikel Anda tidak dibaca oleh manusia, sekaligus tidak “dihiraukan” oleh mesin pencari.



3. Menulis tanpa Menghiraukan Karakter Pembaca


Kesalahan ketiga dalam menulis konten, banyak bloger menulis dengan selera sendiri, tanpa menghiraukan karakter pembaca blognya.

Pilihan bahasa atau gaya penulisan tidak memperhatikan segmen. Termasuk tampilan website atau blog.

Bahkan tidak sedikit pengelola blog yang belum pernah tau (atau tidak mau tau) tentang demografi pembacanya?

Padahal seperti kita bahas di atas, peringkat artikel di mesin pencari sekarang ini lebih banyak ditentukan oleh interaksi antara menusia dengan sebuah konten.

Bagaimana kita mengharapkan respon yang tinggi kalau pilihan bahasa dan gaya penulisan yang kita gunakan tidak ‘mengena’ di segmen pembaca?

Ingat, pilihan bahasa dan gaya penulisan bukan semata soal selera pribadi, tapi menyangkut kepercayaan, efektifitas pesan/komunikasi, dan peng-erat ikatan bathin antara pembaca dengan blog Anda.

Tidak sedikit orang berhenti membaca karena cara penyampaian dan gaya penulisan yang tidak sesuai. “Mereka menilai bahwa Anda menulis bukan untuk mereka.”

Coba Anda bayangkan, sebuah konten islami untuk segmen orang tua, disajikan dengan bahasa gaul dan gaya penulisan remaja. Selain sulit dimengerti (efektifitas pesan), tingkat kepercayaan mereka terhadap tulisan Anda juga akan rendah.

Kenapa? Karena bahasa mencerminkan orangnya. Yang terbayang di benak mereka, Anda adalah juga seorang remaja yang “belum meyakinkan” untuk menjadi rujukan dalam urusan keagamaan. Khususnya bagi segmen orang tua dan pembelajar serius konten keagamaan.

Jadi, menulis artikel untuk blog tanpa mengenali karakter pembaca Anda, adalah salah satu kesalahan yang mempersulit tulisan anda untuk mencapai peringkat teratas pencarian google.

4. Judul tidak menarik dan tidak sesuai isi


Ada orang yang focus hanya menuangkan gagasan. Berhari-hari menulis sebuah artikel. Tapi tidak meluangkan waktu yang cukup untuk memikirkan judulnya.

Sebaliknya ada juga yang hanya bisa membuat judul yang besar, tapi giliran menulis isinya kecil.

Saya ingatkan, jangan pernah menyepelekan judul.

Sebab, pertarungan merebut perhatian pembaca sesungguhnya dimulai dari judul. Membuat judul asal-asalan sama dengan Anda membiarkan artikel Anda kalah sebelum berperang.

Sebagus apapun bobot tulisan Anda tidak akan ada gunanya jika tidak dibaca orang. Dan setiap orang hanya akan membaca artikel yang judulnya menarik (relevan, menggugah rasa ingin tau, dan meyakinkan).

Masih belum faham?

Begini. Tarohlah artikel Anda berhasil lolos di peringkat 1 pencarian google. Di halaman itu ada 10 artikel dengan topik yang sama. Pembaca tentu tidak akan serta merta mengklik dan membaca artikel Anda.

Biasanya orang akan membaca sekilas judul-judul untuk menyeleksi artikel yang akan dibaca. Dimulai dari urutan paling atas. Jika belum “meyakinkan”, dia akan lanjut ke urutan kedua, ketiga, dan seterusnya. Sampai ia menemukan judul yang ‘kena’ di hatinya.

Coba bayangkan, berapa banyak kesempatan Anda hilang hanya karena judul yang tidak menarik? Padahal tampil di halaman 1 pencarian google adalah kesempatan emas yang tidak didapat semua orang.

Dan celakanya, seperti kita bahas di atas, mesin pencari pasti akan “memperhatikan” reaksi pembaca terhadap artikel Anda.

Ketika artikel urutan di bawah Anda lebih banyak diklik dan dibaca orang, siap-siaplah rangking artikel Anda akan turun digantikan oleh artikel lain.

Tentu saja benar, judul bagus saja tidak cukup. Tapi artikel yang bagus tanpa judul yang menarik, kecil kemungkinan dibaca orang.

5. Paragraf dan kalimat terlalu panjang-panjang


Ingat, paragraf dan kalimat yang terlalu panjang akan membuat pembaca capek. Pikirannya mumet. Otak dipaksa mencerna rangkaian banyak hal sekaligus. Tanpa jeda. Mata juga lelah membacanya.

Pembaca web lebih menyukai paragraf yang ringkas. Berisi kalimat-kalimat pendek dan to the point.

Lincah bergerak dari satu gagasan ke gagasan berikutnya.

Menulis dengan paragraph dan kalimat yang panjang-panjang, akan membuat banyak calon pembaca urung membaca artikel Anda.

6. Tidak menggunakan sub-header saat diperlukan


Tulisan yang panjang tanpa selingan sub-header, juga bisa membuat orang batal membaca artikel Anda.

Monoton. Melihatnya saja sudah capek. Apalagi membacanya.

Terbayang berapa banyak waktu, tenaga, dan fikiran akan terkuras untuk membacanya. Padahal, belum tentu isinya juga sesuai yang dicari.

Ingat, di internet orang biasanya tidak langsung membaca artikel huruf demi huruf, dari awal sampai habis.

Jika Anda perhatikan, orang biasanya akan melakukan scaning terlebih dahulu terhadap bagian-bagian tertentu dari sebuah artikel. Tujuannya, untuk bisa mendeteksi secara cepat gambaran besar dari konten artikel itu.

Dimulai dari judul, paragraph pertama, fhoto atau ilustrasi pendukung, sub-judul, dan penggalan-penggalan paragraph yang kira-kira bisa mengkonstruksi keseluruhan isi artikel.

Tanpa sub-judul, sebuah tulisan panjang akan terasa seperti mencari jarum di hamparan padang yang luas.

Seperti halnya judul, sub-judul antara lain berfungsi sebagai pesan singkat mengenai sub-konten dalam sebuah artikel.

Lewat sub-judul pembaca akan dapat memahami dengan cepat isi dari kelompok gagasan yang sudah dipisahkan menjadi sub-sub tema yang lebih spesifik.

Sisi lain, sub header atau sub judul juga akan membuat konten terasa lebih lega di mata. Membantu mengorganisir dan memetakan hamparan konten menjadi bagian-bagian yang jelas dan spesifik.

Dengan sub-header yang tepat, pembaca akan terbantu untuk mengetahui dengan cepat bagian-bagian mana dari artikel perlu dibaca lebih detil, dan bagian mana yang bisa dilewatkan.

7. Menulis tanpa metode dan sistimatika gagasan yang jelas


Pembaca yang sudah meluangkan waktu membaca satu-dua paragraph, namun belum juga menemukan gambaran menarik tentang isi dari sebuah artikel, hampir dipastikan akan berhenti dan beralih ke web lain.

Itulah pentingnya dalam menulis artikel untuk blog, menggunakan metode yang sangat populer di dunia jurnalistik, yakni piramida terbalik.

Dengan metode ini, informasi, ide, atau gagasan pokok yang paling penting dan paling menarik, dimasukkan di bagian awal tulisan. Semakin ke bawah semakin tidak penting.

Pengalaman di dunia jurnalistik, metode ini sangat membantu baik bagi editor yang akan mengedit berita, maupun bagi pembaca.

Bagi editor, dia tidak perlu repot mencari dan menimbang-nimbang, bagian mana dari tulisan yang bisa dibuang (ketika halaman yang tersedia terbatas). Karena tulisan sudah tersusun sedemikian rupa berdasarkan urutan prioritas.

Di bagian manapun editor memenggal sebuah berita atau artikel, pesan atau gagasan utama dari artikel akan tetap tersampaikan. Bahkan, jika pun hanya menyisakan satu alinea pertama. Inti pesan akan tetap tersampaikan.

Hal yang sama juga berlaku bagi pembaca.

Dengan metode penulisan yang benar, gambaran besar dan pesan utama dari sebuah artikel blog sudah bisa diketahui dari satu atau dua paragraf pertama. Sehingga pembaca memiliki alasan yang cukup untuk meneruskan membaca (jika menarik) atau berhenti (jika tidak menarik).

Kesalahan yang banyak terjadi, penulis membuang-buang waktu dan kesempatan dengan terlalu banyak berbasa-basi dan cerita tidak penting, justru di alinea pertama dari tulisannya.

Ini blunder. Karena, seperti telah disinggung, setiap bagian dari tulisan -- dimulai dari yang paling teratas (judul) -- akan menentukan apakah pembaca akan lanjut membaca alinea berikutnya, atau berhenti hanya sampai di situ.

Hanya orang yang tertarik dengan judul, kemudian akan lanjut membaca paragraf pertama. Dan hanya orang yang mendapatkan hal menarik di paragraf pertama, yang akan lanjut membaca paragraf kedua. Demikian seterusnya.

8. Huruf terlalu kecil, jarak antar baris terlalu rapat, jenis huruf yang sulit dibaca


Ada juga orang yang tidak tertarik membaca artikel karena pandangan pertama melihat tampilan huruf yang tidak menarik.

Apakah itu karena ukuran huruf yang terlalu kecil, jarak antar baris yang terlalu rapat, atau pilihan jenis font yang sulit untuk dibaca.

Sebab, huruf yang terlalu kecil dan jarak yang terlalu rapat akan membuat tulisan seperti hamparan benda kecil yang samar di mata. Jika dipaksakan mata jadi lelah, otak tidak segar, dan mengantuk.

Selain itu, dengan huruf yang kecil dan rapat akan sulit untuk menemukan bagian-bagian dari tulisan yang menarik.

Padahal, seperti kita singgung sebelumnya, kebiasaan pembaca di dunia maya, mereka perlu melakukan scanning lebih dulu terhadap bagian-bagian dari konten, sebelum memutuskan membaca atau tidak membaca keseluruhan isi artikel.


9. Tulisan monoton tanpa gambar, skema, atau list


Sisipan gambar, skema, atau list itu penting dalam tulisan.

Selain memperbagus tampilan, sisipan gambar, skema, atau list juga membantu mempermudah pemahaman. Juga membuat belantara pesan menjadi poin-poin yang terorganisir dan sistematis.

Adalah kesalahan besar sebagian penulis malas dan tidak merasa penting untuk menyisipkan gambar, skema, atau list di dalam tulisannya.

Salah satu alasan yang sering kita dengar, karena mesin pencari seperti google tidak memperhitungkan gambar dalam indeksasi konten.

Itu pemikiran yang dangkal dan jadul.

Benar, mesin pencari mungkin tidak memperhitungkan gambar. Tapi mesin pencari memperhitungkan ketertarikan orang untuk membaca sebuah konten. Dan gambar memberikan daya tarik itu.

Sejumlah survei melihat reaksi pembaca terhadap artikel yang dishare di media sosial, ternyata artikel yang disertai gambar yang menarik jauh lebih banyak diklik dari pada tulisan-tulisan monoton tanpa gambar.

10. Menulis tanpa mendalami topik yang ditulis


Banyak blogger menulis sesuatu yang ia sendiri tidak terlalu faham dengan topik yang ditulisnya.

Parahnya, tidak pula berusaha untuk memperbaiki penguasaan topik melalui bacaan-bacaan yang relevan.

Sangat banyak orang menulis hanya dengan modal membaca satu artikel menarik milik orang lain. Tulis ulang, ubah sana-sini, ganti urutan, dan tukar kata-kata, langsung terbitkan.

Hasilnya, semua mungkin bisa tampak berbeda. Dan lolos copyscape.

Tapi intinya tetap sama. Tidak ada hal baru.

Dan sesuatu yang ikut-ikutan, biasanya sulit untuk menjadi pemenang. Karena yang namanya pengikut, pasti tetap dibelakang.

Apalagi di dunia web. Mesin pencari seperti google sangat mengedepakan originalitas.

Memang sulit untuk menulis sesuatu yang benar-benar baru seratus persen. Karena pengetahuan manusia itu juga berkembang secara estapet. Berpijak pada penemuan dan pengetahuan orang lain.

Tapi originalitas yang kita maksudkan minimal menyajikan sesuatu yang baru. Apakah itu hasil modifikasi, pendalaman, penajaman, atau sekedar rangkuman untuk menghasilkan tulisan baru yang lebih lengkap.

Mengumpulkan pendapat para ahli tentang satu hal (yang tadinya ditulis terpisah-pisah), juga bisa menghasilkan tulisan baru yang dianggap original.

11. Menulis terlalu pendek atau terlalu panjang, tanpa bobot


Di atas sudah disinggung, ada beberapa tips SEO jadul yang sangat keliru: posting sebanyak-banyaknya, minimal dua artikel setiap hari. Panjang minimal 300-500 kata.

Yang pertama akan membuat orang fokus mengejar target kuantitas, tapi (terpaksa) mengabaikan bobot. Sementara yang kedua, hanya memaksa orang untuk "memanjang-manjangkan" tulisan, padahal juga tetap tidak berbobot.

Saya sering ketemu artikel jadul yang hanya dua paragraph. Atau lebih panjang dari itu, tapi isinya tak jelas.

Sulit menghasilkan tulisan yang berbobot dengan hanya dua atau tiga paragraf. Meskipun tulisan yang panjang juga belum tentu berbobot.

Demi mengejar target posting 2 artikel setiap hari, banyak blogger tidak lagi punya waktu untuk memikirkan artikel yang berbobot.

Ini kesalahan besar. Tanpa bobot, posting ratusan bahkan ribuan artikel sekalipun tidak ada gunanya. Karena tidak akan mampu bersaing dengan ribuan artikel lain yang sudah lebih dulu dan lebih berbobot. Dan artikel yang tidak mampu bersaing, hanya jadi ‘pajangan’ mati yang tak berguna di dalam blog.

Sementara kewajiban panjang minimal 300-500 kata, membuat banyak artikel sengaja dipanjang-panjangkan, meskipun yang dilakukan hanya sekedar mengulang-ulang kata atau kalimat. Ini juga mengorbankan bobot.

Intinya, tak ada gunanya artikel yang panjang tapi tanpa bobot. Sebab, yang kita perlukan sebenarnya bukan panjangnya, tapi bobotnya. Meskipun, artikel yang berbobot biasanya hampir selalu juga panjang, karena memerlukan pembahasan yang lebih mendalam.

Demikian tips kita kali ini, 11 kesalahan fatal dalam menulis artikel di blog yang perlu dihindari. Tolong bantu share jika artikel ini bermanfaat. Terimakasih.

____________________

Thanks for reading Gagal Masuk Peringkat Google, Inilah 11 Kesalahan Fatal Menulis Artikel di Blog yang Perlu Anda Perbaiki

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Post a Comment